Visit My old blog

Monday, 8 September 2014

Growing older









Sore itu, seperti sore biasa yang asing. Karena aku lupa bagaimana rupa langit sore, dan sinar mataharinya yang lamat-lamat meredup. Terlupakan untuk dipandangi karena hari-hari duniawi yang sesak. 

Sore itu, masih dalam seragam untuk bekerja, aku duduk di window seat, satu dua dan tiga otakku berhenti memikirkan passenger obesitas yang cemberut karena duduk kesesakan tanpa extension seatbelt. Aircraft sedang taxiing -bergerak- pelan menuju runway .Mataku meredup melihat sisi kanan runway yang ditumbuhi banyak pohon seperti cemara, berjejer cantik dengan ujung pohon yang melambai-lambai terbuai angin sore. Langit sedang berwarna kuning bersirat oranye menembus beberapa gumpalan awan yang berserak di atasnya. Kutatapi setiap celah cemara yang bergoyang tertiup angin menyeruakkan sinar sore. Mataku tercekat, berkedip lebih lambat, perlahan rasa itu menyengat otak dan hati. Membawa waktu berputar pada masa ketika aku masih mengenakan kaus kaki putih berenda, bersepatu putih dengan rok terusan pink. Aku duduk di ayunan halaman taman kanak-kanak memandangi burung-burung gereja yang melompat-lompat dari kabel listrik jalanan menuju teras gereja, usai kelelahan berlari sambil tertawa terbahak-bahak karena memandangi bokong mereka saat sedang berjalan membelakangiku.

Masih di taman kanak-kanak, ingatan terkuatku sore itu, saat mataku terpaku pada langit dari sisi pohon cemara terbesar di sekolahku. Mataku berbinar, mengamati pohon cemara yang melambai-lambai di bawahnya seolah menggelitik cantiknya langit tuhan. Ayunanku berayun-ayun cepat dan senyumku menyeruak ringan. Aku bahagia,saat itu. Sebuah kalimat sederhana yang  menjelaskan "bahwa aku melihat sesuatu yang indah dan aku bahagia". Sesederhana itu masa kecil. Beranjak dari 18 tahun yang lalu, growing older bermakna puluhan lipat ambigu, complicated, dan tak dapat diterjemahkan. Menatap langit cantik yang tuhan berikan, membawa berjuta rasa yang sangat detail terkuak dari dasar hati juga otak. Bercampur sedemikian rupa, begitu susah mendefinisikannya dalam satu kata, bahagikah, sedihkah, hampakah? Memori itu berputar, memekakkan, menepi dan berakhir dengan senyum kecil disudut bibirku bersamaan dengan aircraft yang mengerang, terbang meninggalkan airport. Kini mungkin memang tidak pernah sesederhana dulu.



Monday, 1 September 2014

Awan Berkata (Chapter 1 part 1)

Nb: Ini adalah halaman pertama dan kedua dari novel (Awan Berkata) yang sedang saya kerjakan . Novel tentang kisah nyata perjalanan karir dan hidup sebagai cabin crew, berusaha dikemas sesimple mungkin dan sejujur mungkin. Masih dalam bentuk mentah, belum ada proses editing sama sekali, tapi karena alasan ingin mengabadikan bentuk originalnya seperti  ‘bare face’ dalam blog ini so i’m going to upload more pages every month’ before publish the fix version. Aamiin   


Chapter 1, part 1.
Morning Dragging
Singapore, Juni 2014
Apartment Kenes
            Semalam mataku bekerja keras membendung air demi pride pada guling dan bantal. Entah mengapa, kemudian aku tertawa terbahak-bahak bersama dengan bendungan air mata yang pecah-yang biasa mereka sebut tangis. Semalam aku serahkan lagi pride pada guling dan bantal berjam-jam, mereka saksi mengapa pagi ini aku masih berguling di atas kasur walaupun alarm sudah menjerit-jerit sejak dua puluh menit yang lalu.
Kulit tubuh yang bersentuhan dengan selimut dan kasur pada masa-masa kesadaran baru kembali seperempat dan kelopak mata baru berkerjap-kerjap adalah salah satu sensasi duniawi ternyaman yang susah ditinggalkan. Kutarik-tarik lagi selimutku menutupi kepala yang terasa dingin oleh air conditioner. Jariku menyusuri kasur mencari ponsel yang kini alarm-nya berbunyi lagi. Kutemukan benda itu tersembul dibawah bantal. Aku menyeringai menatap layar putih yang membuat perih mata. 03:15 am, tertera disana, kusorongkan lagi ponsel ini jauh-jauh dibawah bantal, kembali memejamkan mata dengan pikiran yang mulai bekerja. 03:15 AM adalah 2 jam 45 menit sebelum departure time flightku pagi ini. Aku berhitung lagi, departure timeku pukul 06:00 AM jadi waktu briefing adalah satu setengah jam sebelumnya, yang artinya pukul 04:30 AM. Sejak bekerja di sini, aku sudah biasa berhitung sambil setengah tertidur. Skill baru yang sungguh layak diperhitungkan dan dicantumkan dalam cv-seandainya saja.  Kulanjutkan lagi, kini tersisa 35 menit sebelum akhirnya aku harus sudah duduk manis di dalam taxi. Butuh sedikit kesadaran tambahan bahwa aku belum mandi, make up, dan ganti baju sekaligus pergi ke airport dalam waktu 35 menit. Hitungan ketiga sebelum aku terjerat mimpi lagi tiba-tiba kakiku menendang kencang-kencang bed cover yang kini tiba-tiba jadi menyebalkan. Setelah sadar beberapa ratus persen punggungku sontak mengayun tegak 90 derajat, mengayun-ayun lunglai selama 2 detik diatas ranjang  sebelum akhirnya berdiri dengan mata masih setengah merem. Telapak tanganku menyangga kepala yang masih berkunang-kunang, dengan kelabakan dan gerakan kesetanan aku menuju kamar mandi.
...
Waktu dimana make up sudah di wajah, seragam sudah melekat di badan, dan staff id sudah tersemat di dada, action adalah hal utama dan pertama yang harus dilakukan. Senyum, segala antusias dan keramahan harus ditempel lengket-lengket di mimik wajah, begitu juga body language dan intonasi suara. Bahkan ketika kita baru putus dari kekasih yang sudah bertahun-tahun bersama, atau sedang sakit, ataupun didera masalah keluarga yang membuat kepala terasa berdenyut-denyut. Lupakan semunya, buang semuanya untuk sementara waktu, kunci semuanya dalam locker beserta dengan hati. Hati adalah yang paling wajib ditinggalkan sebelum flight dimulai. Seorang senior pernah berkata, hati ditinggalkan supaya tidak lecet, lebam ataupun trauma oleh kondisi, situasi dan manusia di tempat kerja. Semua action tadi dimulai bahkan sebelum kaki menginjak lantai aircraft. Tepatnya semua dimulai ketika menginjak lantai airport terutama briefing room. Karena pengalaman mengajarkan banyak hal.
Dulu sekali, waktu masih dibilang ‘very very junior’, seorang senior memelototiku karena memegang handphone dan berjalan bongkok menuju briefing room. Seorang maha senior juga membentakku di briefing room karena dia merasa aku ‘lack smile’ sejak itu aku tersenyum nonstop dan merasa muscle pipiku jadi kaku dan gigiku jadi kedinginan karena AC briefing room yang sedingin kutub utara. Baru-baru ini juga, aku sakit ringan dan memaksa diri untuk terbang, seorang maha senior lain menuduhku memberinya ‘black face’ karena mukaku yang sedikit saja pucat dan wajah yang sedikit saja layu, padahal aku sudah berusaha pasang senyum. Mungkin lain kali aku perlu blush on yang lebih pink. Setelah menuduhku memberinya black face, dia memintaku keluar dari flightnya kalau-kalau lain kali aku datang dengan wajah yang sama. Aku merasa perlu berhitung lagi, jika setiap kali sakit ringan aku harus izin sakit maka setahun aku bisa punya puluhan Medical Letter. Dimana itu artinya adalah sebuah ajang coffee and tea bersama HRD. Itu rasanya seperti masuk pengadilan kelas berat.  Ketika kutimbang-timbang lagi segi positifnya, setidaknya aku belajar untuk tampil (over) professional disini.

Sunday, 20 July 2014

Kata

Kata




Mengingat betapa jatuh bangun perasaan dan harapan yang berselaput keraguan yang menahun. Keraguan yang terbentuk dari hasil mengkhianati dan menyiksa diri sendiri. Melimpahkan segala usaha untuk sebentuk cinta fana yang tak akan pernah tau arti sejati dan pengharapan. Kini semuanya terasa lucu, menggelitik nadi dan syaraf otak.

Kalau ini ditumpahkan jadi sebuah film, aku mau setting musiknya jazz ballads yang sendu tapi sexy, Alfonzo Blackwell- The Seduction, then aktrisnya si Keira Knightly yang i don't know how to say, amazing. Dan yah, dia satu-satunya artis disini. Setting tempatnya ada di Singapore saja, dimana beberapa ras bisa campur dan desek-desekan di pulau sempit ini. Okay, i choose sebuah cafe and bar di Clarke Quay, mari menyetujui bahwa music diluar barnya adalah music yang tadi. Semua tempat duduk dan meja di luar bar adalah kayu tidak berpernis rata, penerangannya sendu, kuning temaram. Lilin dalam gelas ditengah mejapun jadi gemulai tertiup angin berbau jazz. Beberapa tumbuhan sulur merambati sisi-sisi pagar kecil yang membatasi meja, melilit-lilit tiang kayu berseling dengan bunga krisan putih.

Bila kamu duduk di salah satu kursi yang menghadap jalanan  tepat sebelum air mancur dan rainbow lightingnya, terlihat juntaian kain putih yang melilit tiang terbesar kafe melambai-lambai, seberkas cahaya kuning lampu gantung kafe menerawang dari baliknya. Membangun mood sendu yang menggerogoti kemudian membawa romansa dan ilusi tentang perjalanan cinta tingkat dewa. Kini Keira duduk di kursi itu, merasakan ilusi tadi. Segelas red wine masih ditimang timangnya di tangan, mencari cari moment disaat pertahanannya akan pikiran-pikiran sendu itu tak kuat lagi dijejalkan dalam otak. Memori membawanya pada sebuah definisi kegagalan. Memori tentang cinta di waktu lampau menggelayuti satu sisi otaknya yang dulu sempat tak tenang menerimanya. Mengingat betapa jatuh bangun perasaan dan harapan yang berselaput keraguan yang menahun. Keraguan yang terbentuk dari hasil mengkhianati dan menyiksa diri sendiri. Dirinya yang melimpahkan segala usaha untuk sebentuk cinta fana yang tak akan pernah tau arti sejati dan pengharapan. Kini semuanya terasa lucu, menggelitik nadi dan syaraf otak.

Keira tersenyum dengan kaku, menghujani gelas wine dengan tatapan kosong. Seketika tatapannya beralih pada lilin yang berkerjap-kerjap. Ada kesadaran dalam sebuah analogi lilin yang berkerjap-kerjap dipontang-pantingkan angin. Mungkin kita selalu bisa mendapatkan tempat yang lebih layak untuk berteduh, seperti lilin yang benderang bila diletakkkan di tempat  dimana hanya ada desir angin yang halus, gelap malam yang sepi dan kelam. Tidak akan terlihat indahnya bila berakhir di siang bolong demi untuk mengusir lalat dari meja makan. Mungkin begitulah cinta, memaksa untuk jadi satu pada sebuah kondisi yang tidak memungkinkan, pribadi yang tidak tepat, dan lingkungan yang salah, hanya menciptakan berbagai shoot adegan pertengkaran yang berulang-ulang. Segala hal memang berbeda, cinta mungkin memang dari beberapa komposisi yang berbeda, tapi hanya perbedaan yang menyatukan yang bisa mereka sebut cinta. Bukan sekedar perbedaan yang dipaksakan tanpa indra mata untuk melihat ketimpangan dan perasa untuk memahami perasaan. Bahkan cinta memang tidak mempunyai takaran, resep atau rumus, karena cinta bukan dibeberkan dengan lidah, tapi dengan pikiran, tangan, kaki, gerak, yang berwujud effort.

Keira menghembuskan nafas pelan, membelalakkan mata dan berkerjap-kerjap mengusir air di sudut mata yang hampir menetes. Keheningan datang untuk beberapa menit, ada semilir sejuk melintasi rongga dadanya. Peluh yang selama ini ada di ubun-ubun terasa luruh menguap. Dulu terasa sakit, ketika semua orang melangkah dan berbaris untuk menjadi hakim akan kisah cintanya yang sudah cukup terlunta-lunta. Dia yang dulu meringkuk dengan mata sembab menatapi mereka yang pongah dan menjelma menjadi nenek sihir berwajah malaikat. Membualkan kata-kata buta yang hanya terdengar perih dan sinis di telinga dan hati. Itu dulu, dulu yang terasa sakit, dan ketika sakit melaju menjadi sebuah kenormalan yang menjentik, semua terasa lebih mudah.

 Keira tersenyum, semua kata-kata pahit, bualan janji, dan kekanak-kanakan hanyalah alas tangga yang terinjak dan telah terlewati. Sudah datang masanya. Sebuah masa ketika hujan berhenti, dan menyisakan pelangi yang melengkung di sisi langit, bersama aroma tanah yang menguap segar. Semua menyiratkan sebuah masa baru tanpa cela di masa lalu. Sudah habis masanya, masa dimana berduka dan meringkuk jadi saksi bisu kedewasaan yang tumbuh pada setiap detik yang dulunya terasa sakit. Keira menyorongkan gelas wine dan kursinya, seketika berdiri dan meraih tasnya. Kedermawanannya menyisihkan waktu untuk  merenung rasanya telah habis. Waktu yang kini tak akan termakan waktu yang lalu. Dan semua jejak masa lalu tetaplah disana, tanpa harus terbawa di masa kini dan masa depan.  


Friday, 16 May 2014

Mencinta


Aku mencintai kamu, bahkan sampai pada detik ini. Sesakit apapun yang ada di mata, telinga, dan hati, aku masih mencintai kamu. Mencinta yang digerogoti rasa sakit, karena tidak harusnya datang di setiap helaan nafas, kedipan mata, dan angin yang lewat. Mencinta kemudian serasa tidak harus dipertahankan ketika dia tak lagi memilih hati ini untuk dibela. Menangislah bermalam-malam memandangnya tertawa bahagia. Tak mengapa bila dia tidak mencinta sebesar cinta ini. Tiba saatnya menyadari, selama ini aku mencinta terlalu melebihinya. Banyak dini hari terlewatkan dengan bahu gemetar di dalam selimut dengan lebam di mata, dan dia disana tertawa bahagia bersama teman-teman tercinta. Aku tersenyum, meyakini bahwa mungkin bahagia ada padamu saat ini. Kamu telah memilih. Memberiku pengakuan yang getir.
Aku mencintai tapi aku tidak punya kapasitas lebih untuk melanjutkan. Dan ini yang terakhir. Terakhir kali berkata...... untuk tidak mencintai kamu lagi.

Tuesday, 22 April 2014

Feeling Insecure?



      

      Jadi 'feeling insecure' ini adalah salah satu istilah yang menurut saya paling cocok dan mewakili buat describe saat-saat dimana kamu merasa nggak happy, nggak aman, lonely, on the top of your sensitive emotion,  intinya totally absurd, dan ambigu untuk dijelasin. Saat-saat yang begini bisa dibilang senggol sedikit bacok. Semua wanita i'm sure pasti pernah atau mungkin sering ngerasain sindrom "feeling insecure" ini. We do not talk about what kind of problems that drives us to this silly and iritating feeling, karena semua orang tentu punya masalahnya sendiri. So i do really happy untuk bisa sharing apa yang mungkin bisa dilakukan untuk kick out this feeling. Dan ini adalah versi saya berdasarkan beberapa bacaan artikel psikologi yang sudah saya baca dan manggut-manggut karna kebanyakan adalah teori. Tapi trust me mengalami sendiri kemudian membaca teori hasilnya adalah solusi yang original. 

- Pertama, ambil kertas paling bagus dan tulis di atas kertas itu besar-besar quote ini  "The task we must set for ourselves is not to feel secure, but to be able to tolerate insecurity" (German psychoanalyst Eric Froom). Hey girls ternyata insecurity itu normal, jadi ketika perasaan ini muncul merasalah ini bagian dari kenormalan. Nggak gampang memang untuk mencoba memasukkan ini dalam sebuah konsep kenormalan, tapi memasukkan ini dalam konsep masalah juga to much. Karena feeling insecure bisa datang kapan saja, regular guest bisa dibilang. Bayangkan saja kita punya masalah yang datangnya secara regular, no way!

- Kedua, do something that make u happy. Mengontrol pikiran kita bahwa insecurity itu sangat bisa ditolerir rasanya nggak cukup membuat perasaan itu hilang. Melakukan hal yang kita suka bisa jadi pengalih perhatian yang menyenangkan dan sekaligus manjur. Kalau hobi baca buku, pergi ke toko buku beli beberapa buku yang kamu suka, seharian spent waktu di perpustakaan atau ke coffee shop sambil baca mungkin. Atau hobi nonton film, ajakin siapa aja yg bisa ikut nonton atau beli dvd-dvd favorit. Happy!

- Ketiga, buy  something cute for u (hadiahi diri sendiri). Nggak harus mahal, beli sesuatu yang  cute dan membahagiakan. Kalau kamu wanita tulen, pasti tau prinsip ini. Let say, saya sudah cukup seneng dengan beli kutek baru, dengan warna baru yang sebelumnya gak pernah dicoba. Just a small things but cheer u up!
- 
Keempat, trust me pastikan kamu makan teratur disaat sindrom 'insecure' muncul. Tingkat stress orang dengan perut kenyang dan asupan gizi tercukupi akan lesser dibanding dengan orang yang lagi laper. Sederhananya kita selalu bilang 'aku nggak bisa mikir karna aku laper' konsep ini sama juga dengan tingkat stress dan pikiran yang nggak jernih karena kita nggak makan dikala stress. Konsumsi buah, minum banyak air putih bisa membuat kita slightly fresh.

- 
Kelima, berdoa. Siapa yang kita tuju disaat teman-teman pada sibuk kerja, orang tua jauh, saudara juga, dan pacar... ngga punya mungkin??. Anyway, Tuhan selalu ada dimanapun dan kapanpun. Segala keluh kesah yang kita punya mungkin tidak akan dimengerti sepenuhnya oleh orang lain. Tapi, untuk tuhan, tanpa perlu seribu kata keluar dari mulut kita Dia selalu mengerti dan ada. Alhamdulillah. 

So.. semoga seiring dengan berjalannya waktu, dan bertambah dewasanya kita semoga perasaan insecure ini bukan lagi jadi hal yang dominan dalam hidup sehari-hari. Gonna change with happy feeling forever! amin.

Wednesday, 9 April 2014

Ranting

         
          Mataku sayup menatap ranting ringkih yang tiba-tiba jatuh dari ujung dahan yang menua. Jatuh di tengah jalanan yang penuh dengan dedaunan kering. Dari ujung jalan kulihat kaki-kaki pejalan kaki tanpa ampun melindasnya, remuk menjadi beberapa bagian, dan kini terserak entah kemana saja. Angin sore kemudian bertiup kencang membawa bagian-bagian ranting kecil semakin jauh terpisah. Mataku terasa panas menyadari sesuatu...    
          Beratus langkah dilewati ternyata menuju pada titik ini. Kupahami analogi terdalam untukku tak jauh beda dengan ranting di sore ini. pada kenyataannya, aku memang tidak akan bisa lagi berada di tengah jalanmu menjadi ranting kering, jatuh dan sering terinjak. Rantingku selalu dipungut dan disatukan kembali dengan perekat kertas. Kembali terinjak lagi, untuk disatukan dengan perekat kertas yang sama. Berulang kali. Berakhir dengan perekat kertas yang masih juga sama. Pada akhirnya ranting ini hancur terbawa angin, entah kemana, tanpa bisa disatukan dengan perekat yang sama lagi.
           Sebenarnya waktu itu aku ingin kembali. Kembali untuk mencoba setelah jutaan kali jatuh. Melangkah kebelakang lagi, paling tidak satu langkah. Kembali kupeluk saja dia sampai entah kapan lenganku lumpuh karna letih. Atau mungkin kupenjara saja, biar hanya untukku. Kalau perlu kukais-kais kesetiaan orang-orang terdekat untuk menjagainya jauh dari para makhluk dengan ratusan topeng. Sayangnya, sampai juga letih ini. Segala air mata, perdebatan, komitmen, pertahanan, sabar, senyum, harapan, dan mimpi, rasanya hanyut entah kemana.
         Tapi kuyakini segala yang telah dilewati tidak akan membawa kesia-siaan. Tuhan menyampaikan pesannya dengan lembut. Membentuk hati yang kian hari kian gigih dan dewasa. Mencintai seseorang mungkin memang tidak selalu memiliki, ketika kondisi selalu tidak menjadikannya lebih baik. Meninggalkan untuk memberinya kebebasan atas apa yang dipilihnya lebih penting dari hati kita adalah kenyataan yang sewajarnya diterima. Ada saatnya untuk berdamai dengan sebuah keadaan dan realita yang tidak akan pernah bisa dirubah. Nanti, pada sebuah detik, menit, jam dan hari mungkin tuhan akan mengganti sedih dengan bahagia yang lebih. 
  

Monday, 31 March 2014

Lamunan Kita 'Indonesian'

     Seorang uncle yang sedang queuing bus siang tadi menarik perhatian saya. Tangannya memegang tongkat, dan di ujung hidungnya bertaut kacamata hitam bundar yang mungkin lebih berumur dari umurnya. Sendirian saja dia duduk disana, sekilas dari sudut mata kulihat pandangannya menerawang. Tatapan matanya yang kosong, mengawang-awang disana, diam saja di dalam pikirannya. Pada kedipan mata kedua dengan sedikit tersentak kusadari bahwa si uncle ternyata tunanetra. Seketika saya diam. Diam, ikut merasakan apa yang mungkin dia rasakan sewaktu pertama kali mendapati dunia ini menjadi gelap
     Bunyi deru bis yang memperlambat lajunya menarik perhatian setiap orang untuk berdiri mengular di ujung pintu bis. Kulihat si uncle dengan tongkatnya melangkah sedikit goyah menuju pintu bis. Pelan tapi pasti tanpa bantuan siapapun dia menjejakkan kakinya kuat-kuat di tangga bis, menge-tap kartu busnya dan berjalan pelan mencari tempat duduk kosong dengan mengketuk-ketukkan tongkatnya di lantai bus. Saya duduk di sampingnya, dan tiba-tiba ada rasa syukur untuknya karena tinggal di negeri ini. 



      Saya masih bisa merasakan bentuk tanggung jawab pemerintah Singapura dari public transportationnya juga tata kota dan hunian untuk masyarakatnya bahkan masyarakat dengan keterbatasan fisik. Si uncle walaupun tidak memakai kendaraan pribadi, masih bisa bepergian dengan nyaman memakai bus atau MRT (Mass Rapid Transit). Mengantri juga sama sekali tidak berdesakan, Singapura menata terminal bisnya dengan sangat rapi. Membuat sekat-sekat besi yang memisahkan setiap antrian untuk nomor bus yang berbeda. Masyarakat juga sadar akan keteraturan dan aturan, tidak ada serobot sana sini. Bahkan untuk mereka yang menggunakan kursi roda, supir akan membantu menurunkan papan besi untuk memudahkan kursi roda memasuki bis. Kemudian membantu menempatkannya di area khusus wheelchair dengan sandaran yang sudah disediakan untuk mencegah wheelchair bergeser. Ini hanya sebuah contoh kecil bentuk tanggung jawab sebuah negara untuk rakyatnya yang memiliki kekurangan fisik yang layak untuk di apresiasi.
       Lalu dalam pikiran saya  tiba-tiba terlintas kepada negeri saya sendiri. Kadang saya melihat anak-anak muda kita yang sedang menunggu kendaraan umum, duduk termangu sambil melamun menatap jalanan raya yang macet sambil memicingkan mata. Kadang saya yakin mungkin ada puluhan ratusan atau entah berapa banyak dari lamunan mereka adalah meratapi kemudahan dan kelayakan transportasi umum yang seharusnya tersedia. Terlintas bayangan terminal-terminal yang masih kotor, keamanan yang belum mencukupi, penataan yang belum teratur. Belum juga di jalanan yang seharusnya ada banyak halte teduh dan rapi, berganti jadi tempat panas dan bahaya untuk menunggu kendaraan umum yang kebanyakan berhenti di sembarang tempat. Belum juga kesadaran masyarakat kita untuk mengantri, serobot sana sini yang tua dan anak-anak bisa saja jatuh tertinggal dan begitu seterusnya. Kepada orang-orang yang juga memiliki keterbatasan fisik sepertinya mati-matian untuk bisa pakai kendaraan umum. Saya tidak bermaksud mendiskriminasikan mereka dengan mengganggap mereka lemah. Sudut pandang saya meyakini bahwa setiap orang pantas mendapatkan kemudahan dan kelayakan hidup dalam hal ini kemudahan dan kelayakan transportasi di negerinya. Mempermudah kehidupan yang sebenarnya sudah cukup berat.
     Terlepas dari seberapa stressnya saya bekerja di sini, ada berbagai point plus yang bisa saya dapatkan kemudian saya compare dengan tanah air kita tercinta. Bagi siapapun mereka yang pernah hidup di luar Indonesia pasti pernah merasakan hal yang sama. Ada rasa dimana kita selalu membandingkan milik orang lain dengan apa yang kita punya. Rumput tetangga katanya selalu lebih hijau dari rumput sendiri. Comparition saya bukan berhenti kepada sekedar membandingkan. Kekurangan yang tampak ketika kita membandingkan membuat kita melek dan mencoba memperjuangkannya untuk jadi lebih baik. Duhai pemerintah indonesia yang seharusnya kita cintai sesungguhnya kami selalu menaruh harapan besar di pundak kalian. Bangunlah setiap dari kalian yang diberi tahtah tanggung jawab atas kehidupan rakyat dengan hati yang melek bukan hanya mata yang melek dengan materi kemewahan dunia. Semoga.